(2) piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir;
(3) pacikrak ngawan merak;
(4) cecendet mande kiara;
(5) jogjog neureuy buah loa
Maksud dari ungkapan di atas artinya sama, manusia jangan sombong, jangan menyepelekan hidup.
Etos Kerja Orang Sunda
(1) Mun teu ngoprek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih,
yaitu
Kalau mau makan atau mau mempertahankan hidup maka bekerjalah.
(2) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan,
yaitu
kerjakan apa yang mesti dikerjakan, jangan terganggu oleh hal-hal lain yang mengganggu perkerjaan utama dan harus rendah hati jika telah mendapatkan kesuksesan
(3) Ulah kumeok memeh dipacok,
yaitu
jangan pernah menyerah sebelum melakukan pekerjaan, harus tetap optimis
(4) Ulah kurung batokkeun,
yaitu
manusia harus banyak bergaul agar banyak teman dan menambah pengalaman
(5) Kudu bisa ka bala ka bale,
yaitu
manusia itu harus berusaha untuk memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, mau bekerja apa saja asal halal, jangan memilih-milih pekerjaan yang akhirnya malah menganggur
(6) Ulah muragkeun duwegan ti luhur,
yaitu
jangan mengerjakan sesuatu yang hasilnya malah gagal atau sia-sia
(7) Ulah cacag nangkaeun,
yaitu
jangan mengerjakan sesuatu setangah-setengah sebab hasilnya tidak akan memuaskan, malah menjadi berantakan
(8) Ulah puraga tanpa kateda,
yaitu
jangan mengerjakan sesuatu asal jadi saja, pada akhirnya bos atau orang yang mengerjakan kitu merasa kecewa akan hasil kerja kita
(9) Ulah ngarawu ku siku, jangan menerima pekerjaan jangan serakah, semua tawaran diambil, sebab pada akhirnya akan sia-sia bahkan tidak akan berbuah
(10) hejo tihang, yaitu jangan pindah-pindah tempat kerja
(11) muru julang ngaleupaskeun peusing, jangan tergiur dengan iming-iming yang belum tentu menghasilkan, lebih baik tekuni yang sedang digarap tetapi hasilnya sudah menjanjikan.
“Kudu landung kandungan kedah laer aisan”
artinya hidup harus mengayomi orang lain selain mengoyomi diri sendiri.
“Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja”
artinya selamanya dikenang dalam kebaikan dan kalau meninggal tidak meninggalkan sifat buruk.
"Mintul mun terus diasah tangtu bakal seukeut”
artinya pisau tumpul kalau terus diasah akan tajam juga;
atau
“cikarakac ninggang batu laun-laun jadi legok”
artinya air tempias menimpa batu lama-lama batunya akan berlubang.
Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya orang kalau terus ditempa, suatu saat akan ada bekasnya dari hasil pembelajaran itu.
Buruk-buruk papan jati
“betapa pun lapuknya kayu jati itu kuat”
Artinya: betapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.
Kawas gula jeung peueut
“seperti gula dengan nira yang matang”
artinya : hidup rukun sayang menyayangi, tidak pernah berselisih.